Bank Digital Filipina Kejar Profit di Tengah Rencana Regulator Tambah Pemain Baru – Kompetisi bank digital di Filipina semakin sengit. Di satu sisi, masyarakat menikmati bunga tabungan yang lebih tinggi dan layanan serba praktis. Di sisi lain, para pelaku industri masih berjuang membukukan keuntungan. Situasi ini menjadi semakin menarik ketika regulator memberi sinyal akan membuka pintu bagi lebih banyak pemain baru.
Isabel Bautista masih ingat betul rekening bank pertama yang ia buka sendiri. Pilihannya jatuh pada GoTyme. Daya tariknya sederhana: bunga tabungan mencapai 5 persen dan bebas biaya setor tunai. Proses pendaftarannya pun mudah dan cepat.
Sejak itu, Bautista tidak berhenti di satu akun saja. Hingga 2026, ia memiliki tiga rekening di tiga bank digital berbeda, dengan total simpanan bernilai ratusan ribu peso. Pengalaman seperti Bautista bukan hal langka. Sejak Bangko Sentral ng Pilipinas (BSP) mulai menerbitkan lisensi bank digital pada akhir 2020, warga Filipina memiliki semakin banyak opsi untuk menyimpan dana.
Saat ini, enam bank digital berlisensi di Filipina menawarkan bunga tabungan di atas 3 persen. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibanding rata-rata bunga 1,8 persen yang diberikan bank konvensional.
Namun, tingginya bunga dan meningkatnya jumlah nasabah belum otomatis membuat seluruh bank digital meraup laba. Hingga September 2025, hanya dua bank digital—Maya Bank dan OFBank (Overseas Filipino Bank)—yang tercatat mencetak keuntungan bersih.
Lisensi Baru, Persaingan Makin Ketat
Meski sebagian besar pemain masih merugi, BSP berencana menerbitkan tiga lisensi bank digital tambahan sebelum Maret mendatang. Sejak 2023, regulator memang sudah membuka wacana untuk menerima pemain baru.
Daniel Broby dari Asian Institute of Management (AIM) menilai kandidat yang masuk kemungkinan adalah perusahaan yang sebelumnya belum lolos seleksi. Sementara pengamat lain menduga regulator ingin menghadirkan pemain dengan model bisnis lebih kuat, yang mampu melampaui performa enam bank digital pertama.
Menurut BSP, masuknya pemain baru bertujuan menciptakan kompetisi yang lebih sehat. Melchor Pablasan, pejabat senior di departemen pengawasan risiko teknologi dan inovasi BSP, menyebut masih ada produk finansial yang belum ditawarkan oleh pemain lama.
Namun, sejumlah bank digital yang sudah beroperasi merasa waktu penambahan pesaing ini terlalu cepat. CEO Tonik, Greg Krasnov, mengingatkan bahwa pemain awal membutuhkan waktu untuk memperluas basis nasabah dan memperkuat fondasi bisnis sebelum menghadapi tekanan tambahan.
Tantangan Pertumbuhan Kredit
Salah satu hambatan terbesar bank digital adalah membangun portofolio pinjaman yang sehat. Berbeda dengan Maya Bank yang memiliki dukungan data pelanggan dari bisnis dompet digitalnya serta jaringan mitra besar seperti PLDT, Tonik harus memulai proses penilaian kredit dari nol. Mereka mengandalkan platform penilaian alternatif seperti Credolab untuk menilai kelayakan peminjam.
Krasnov menekankan bahwa risiko penipuan di sektor bank digital masih tinggi. Ketiadaan sistem identitas nasional yang sepenuhnya efektif turut menyulitkan proses verifikasi nasabah.
Meski baru meluncur setahun setelah Tonik, Maya Bank berhasil membangun portofolio kredit senilai hampir US$490 juta per September 2025, melampaui pesaingnya. Dengan lebih dari delapan juta deposan, Maya juga memiliki rasio kredit bermasalah (NPL) yang relatif rendah di antara bank digital lainnya.
Angelo Madrid dari Digital Bank Association of the Philippines menyebut rasio NPL para pemain lama telah membaik dalam setahun terakhir seiring matangnya portofolio pinjaman dan penyempurnaan model kredit.
GoTyme sendiri memilih pendekatan hati-hati. Bank ini baru meluncurkan produk pinjaman pertamanya—layanan buy now, pay later—lebih dari dua tahun setelah berdiri.
Harapan pada Open Finance
BSP optimistis tiga bank digital tambahan dapat mencapai profitabilitas bersih pada 2027. Beberapa pemain lama seperti GoTyme dan Tonik juga menargetkan titik impas dalam waktu dekat. UnionDigital Bank, yang mendapat lisensi pada 2022, mengaku lebih selektif dalam menyalurkan kredit demi mempercepat jalan menuju laba.
Salah satu faktor yang bisa mengubah peta persaingan adalah implementasi kerangka open finance oleh BSP. Jika berjalan efektif, sistem ini memungkinkan lembaga keuangan berbagi data nasabah secara terkontrol dan aman. Langkah ini berpotensi menciptakan persaingan yang lebih seimbang, terutama bagi bank digital yang belum memiliki ekosistem data besar.
Namun hingga kini, kemajuan open finance masih terbatas pada dokumen kebijakan dan komitmen tertulis.
Bank Digital Filipina Memburu Pasar Unbanked
Tantangan terbesar tetap terletak pada besarnya populasi dewasa Filipina yang belum memiliki rekening formal. Sekitar setengah orang dewasa di negara tersebut belum terhubung dengan layanan perbankan formal.
Profesor ekonomi Jovi Clemente Dacanay menilai masih ada basis simpanan yang belum tergarap. Inilah salah satu alasan regulator tetap membuka peluang bagi pemain baru.
Nama besar seperti Revolut disebut-sebut akan masuk ke pasar Filipina. Perusahaan fintech asal Inggris itu dikenal dengan produk tabungan multivaluta, yang memungkinkan nasabah menyimpan dan menukar berbagai mata uang dengan biaya rendah—fitur yang relevan bagi keluarga Filipina dengan anggota yang bekerja di luar negeri.
Meski begitu, sejumlah ahli memprediksi konsolidasi tidak terelakkan. “Sepuluh bank digital sudah lebih dari cukup untuk satu pasar,” ujar Broby.
Ke depan, inovasi menjadi kunci bertahan. Beberapa bank digital telah menggandeng platform lain untuk menyalurkan kredit, sementara pengamat memperkirakan layanan pembiayaan online dan offline akan semakin berkembang.
Pada akhirnya, persaingan ini memberi keuntungan bagi konsumen. Layanan lebih beragam, akses lebih mudah, dan pilihan semakin banyak. Bagi masyarakat Filipina, era bank digital berarti kemudahan finansial yang belum pernah sebesar ini sebelumnya. Tuna55

Leave a Reply