Anggota DPR Soroti Siswa di 99 Sekolah Banyak Yang Masih Belajar di Tenda Pascabencana Banjir Sumatra – Bencana banjir dan longsor yang melanda sejumlah wilayah di Sumatra meninggalkan dampak besar pada sektor pendidikan. Ribuan sekolah terdampak kerusakan fasilitas, bahkan sebagian bangunan hanyut atau tidak lagi layak digunakan. Data pemerintah menunjukkan total 4.852 sekolah terdampak di tiga provinsi utama yaitu Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Meski proses belajar mengajar telah diupayakan berjalan kembali, kondisi di lapangan belum sepenuhnya pulih. Sebagian siswa masih harus belajar di fasilitas sementara seperti tenda darurat, ruang pinjaman, atau tempat penampungan. Situasi ini menimbulkan kekhawatiran berbagai pihak, termasuk DPR RI, yang menilai pemulihan sektor pendidikan perlu dipercepat.

Anggota DPR Soroti Siswa Skala Dampak Sekolah Terdampak

Menurut paparan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti, ribuan sekolah mengalami berbagai tingkat kerusakan akibat bencana.

Data Kerusakan Pendidikan

Total sekolah terdampak: 4.852 unit

Sekolah masih belajar di tenda: 99 sekolah

Sekolah menumpang di tempat lain: 22 sekolah

Sebagian sekolah masih dalam tahap pembersihan pascabencana, sementara lainnya mengalami kerusakan parah sehingga ruang kelas tidak bisa dipakai lagi.

Distribusi Sekolah yang Sudah Kembali Belajar

Anggota DPR Soroti Siswa Walau kondisi belum ideal, pemerintah memastikan kegiatan belajar sudah kembali berjalan di sebagian besar wilayah. Ribuan sekolah di tiga provinsi terdampak telah memulai kembali proses pembelajaran sejak awal Januari 2026.

Sorotan DPR terhadap Kondisi Belajar di Tenda

Ketua Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudian, menyoroti keras situasi siswa yang masih belajar di tenda darurat. Ia menilai kondisi tersebut menunjukkan pemulihan pendidikan belum berjalan optimal.

Kritik terhadap Penanganan Pascabencana

Anggota DPR Soroti Siswa menilai percepatan penanganan sangat diperlukan karena baru sekitar 30 persen sekolah terdampak yang masuk tahap kerja sama revitalisasi dengan kementerian terkait.

Selain itu, DPR juga menekankan pentingnya pembangunan hunian sementara bagi korban bencana yang terhubung dengan fasilitas pendidikan. Hunian yang tidak terkoneksi dengan sekolah dinilai dapat menghambat proses belajar anak-anak.

Pentingnya Revitalisasi dan Dukungan Sarana

Revitalisasi tidak hanya mencakup pembangunan ulang gedung sekolah, tetapi juga pengadaan perlengkapan belajar seperti meubel, perangkat praktik, laboratorium, serta dukungan bagi guru dan tenaga kependidikan terdampak.

Upaya Pemerintah Memulihkan Pendidikan

Pemerintah menyatakan komitmen agar pendidikan tetap berjalan meskipun terjadi bencana. Salah satu langkah yang dilakukan adalah menyediakan kurikulum darurat fleksibel dengan durasi penyesuaian mulai dari tiga bulan hingga beberapa tahun sesuai kondisi daerah.

Selain itu, pemerintah juga menyediakan alternatif lokasi belajar seperti fasilitas umum dan tempat ibadah bagi siswa yang belum bisa kembali ke sekolah mereka.

Bantuan dan Anggaran Pemulihan

Hingga pertengahan Februari 2026, Kemendikdasmen telah menandatangani kerja sama revitalisasi untuk 746 sekolah dengan anggaran lebih dari Rp866,5 miliar.

Bantuan juga diberikan kepada puluhan ribu guru terdampak berupa dukungan finansial serta tunjangan agar proses pendidikan tetap berlangsung.

Kondisi Pengungsi yang Masih Bertahan

Data terbaru menunjukkan masih ada sekitar 12.994 orang yang tinggal di tenda pengungsian di wilayah terdampak bencana Sumatra, dengan mayoritas berada di Aceh.

Tantangan Pemulihan Pendidikan Pascabencana

Meski aktivitas belajar sudah kembali berjalan 100 persen secara administratif, pemerintah mengakui bahwa proses pembelajaran belum sepenuhnya ideal. Sebagian siswa masih belajar dalam sistem bergilir, di tenda darurat, atau berbagi fasilitas dengan sekolah lain.

Kondisi tersebut menimbulkan tantangan serius, mulai dari keterbatasan sarana, kenyamanan belajar, hingga kualitas pembelajaran. Jika tidak segera ditangani, situasi ini berpotensi memengaruhi perkembangan akademik dan psikologis siswa.

Sorotan DPR terhadap 99 sekolah yang masih belajar di tenda menjadi pengingat bahwa pemulihan pascabencana tidak hanya soal membangun kembali infrastruktur, tetapi juga memastikan keberlanjutan pendidikan anak-anak. Walau pemerintah telah melakukan berbagai langkah seperti penyediaan kurikulum darurat, pembangunan fasilitas sementara, dan alokasi anggaran revitalisasi, tantangan di lapangan masih besar.

Sinergi antara pemerintah pusat, daerah, DPR, dan masyarakat menjadi kunci agar siswa di wilayah terdampak bencana dapat kembali belajar dalam kondisi yang aman, nyaman, dan layak. Pendidikan yang pulih sepenuhnya bukan hanya indikator keberhasilan rehabilitasi, melainkan juga investasi masa depan generasi yang terdampak bencana Tuna55.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *